Membatik dan Kehidupan Masyarakat

Pengrajin atau pengusaha batik biasanya tinggal di kota, mereka mengerjakan batik tulis (tidak membatik sendiri) dengan proses pewarnaan dan proses lainnya sehingga kain menjadi kain batik yang siap untuk dijual. Pengerajin dikota bekerja sama dengan pembatik di desa. Dalam hal ini pembatik mengambil mori dari kota, baik sudah dicorek gambar batik maupun mori belum dicorek. Proses membatik dilakukan di desa melalui klowong, ngengreng terus, isen-isen dan cecek ngengrengterus, ditembok ngengreng terus sampai selesai.selanjutnya oleh pembatik kain yang telah dibatik dibawa ke kota, disetor ke pemilik mori/pengusaha. Upah membatik dapat dipandang berdasarkan dua kondisi pembatik, yaitu mereka yang bekerja sebagai pembatik untuk mendapatkan penghasilan untuk hidup dan mereka yang hanya mengisi waktu luang dari pekerjaan pokoknya (misalnya bertani). Membatik sebagai penghasilan untuk hidup, ongkos membatiknya sangat ditentukan oleh pemesan/pengusaha. Mereka tidak mengetahui upah minimum regional/propinsi yang telah ada pada saat itu, sehingga mereka tidak dapat menghitung upah semestinya yang dapat diterima. Mereka akan menerima upah untuk satu kain batik sesuai yang ditetapkan oleh pengusaha. Kalau kebetulan pada saat itu ada kenaikan harga lilin, maka kenaikan harga lilin ini dipakai untuk minta kenaikan upah kerja. Jadi umumnya para pembatik di desa belum dapat menguasai cara menghitung upah yang harus diterima sesuai hasil pekerjaanya. Para pembatik di desa tidak dapat menerima upah langsung harian yang segera dapat dimanfaatkan olehnya, mereka menerima upah setelah satu kain diselesaikan. Dengan kata lain upahnya tidak dapat diterima dan dinikmati segera. Hal ini merupakan salah ssatu sebab mengapa tenaga pembatik berkurang atau kurang menariknya mengerjakan membatik, karena tidak diberi upah langsung atau tudak dapat mendatangkan uang setiap hari. Mereka lebih suka bekerja pada pengusaha kerajinan (kriya) lainnya, bukan batik, yang dapat memberi upah untuk tiap pekerjaan potongan kecil-kecil, dan dapat menerima upah tiap harinya. Mereka lebih suka bekerja di pabrik kalau memang ada pabrik yang dapat menerimanya. Membatik sebagai pengisi waktu (pekerjaan sambilan) disela-sela tugas pokok. Pekerjaan membatik juga dapat sebagai pengisi waktu bagi mereka yang menganggur, hiburan bagi ibu-ibu yang tidak mempunyai pekerjaan karena tidak memiliki pekerjaan bertani di sawah atau tegalan. Bagi karyawan keraton atau abdi dalem puteri, kurang padatnya pekerjaan, dari pada merenung merana, lebih baik waktu diisi dengan membatik. Besarnya ongkos kerja tidak diutamakan karena bukan haasil pekerjaan pokok

One thought on “Membatik dan Kehidupan Masyarakat

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s